Pendidikan sebagai media menjadi Insan Kamil

Selasa, 27 Oktober 2015

PUISI



Sajak- sajak Anis Zulia

Kesaktian Sajak
Rangkaian sajakmu
Bagaikan sebilah pisau, yang
Menusukku pelan- pelan
Kemudian menyusun lautan
Yang meninggalkanku
Pesma An Najah, 30 April 2015

PUISI



Sajak- sajak Anis Zulia A’limatun Nisa

Wajahmu Mendung
Ketika,
Cahaya merah itu,
Menerobos celah-celah atap
Mulutku terkunci seketika
Di antara Kamu dan Dia
Ucapanmu bagai mendung
Yang,
Menghapus sunyi jadi pagi
Dan meninggalkan hujan
Cemara Wetan, 29 April 2015

CERPEN



Hikmah di balik  Niat Terpuji

Sore ini, rizki harus meninggalkan keluarganya di rumah terutama ayah dan bundanya. Beliau berdua yang selalu menyayangi Rizki. Dengan berat hati, Rizki mulai melangkahkan kaki untuk mencium bunda dan berpamitan serta meminta doa restu. Tepat pukul 16.30 ayah Rizki berhenti di depan rumah dan mengajak Rizki untuk segera berangkat karena langit mulai gelap.
Rizki berpamitan pada anggota keluarga. Rasanya Rizki ingin menjatuhkan air mata, namun Rizki tetapmenahannya kare rizki tak ingin melihat Bundanya bersedih hati. Rizki ingin melihat Bunda tersenyum disaat Rizki meninggalkan rumah. Selain itu, Rizki juga ingin melihat Bunda dan anggota keluarga yang lain tersenyum bangga ketika Rizki kembali ke rumah. Doa dan restu mereka semua yang selalu Rizki harapkan.bukan sekedar harapan Rizki, namun sudah menjadi kewajiban orang tua untuk selalu berdoa agar Allah memberi yang terbaik untuk anaknya.
“Ayo mbak berangkat,agar tidak kemalaman dan tidak diguyur hujan saat di perjalanan, Ayah tidak mau kamu jatuh sakit”. Kata Ayah yang telah mamanasi motor.
“Iya Ayah Rizki sudah siap” berjalan menuju motor Ayah dan melambaikan tangan pada anggota keluarga yang di rumah.
“hati-hati sayang, do’a Bunda selalu menyertaimu… selalu berdoa dan berproseslah untuk menjadi yang terbaik sayang..”
            Semilir angin menusuk rong-rongan dada Rizki, tak tertinggal cahaya matahari sedikitpun karena langit mulai gelap. Dedaunan berjatuhan tertiup angin memenuhi jalan yang berkelok-kelok. Motor mulai melaju dengan kecepatan standar. Sepanjang jalan Rizki hanya diam seribu bahasa. Dalam benaknya dihantui rasa takut yang bertubi-tubi. Rizki takut tidak bisa hidup tanpa Bundanya, selama ini kebutuhan Rizki selalu dipenuhi oleh orang tuanya. Rizki takut tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru, lingkungan  yang belum pernah Rizki rasakan secara langsung. Hanya cerita dari kawan-kawan Rizki yang bisa didengar.
            Tiba-tiba Ayah Rizki memecehkan lamunan Rizki, karena sebagai seorang ayah tentunya lebih tahu dan paham apa yang ada dipikiran buah hatinya.
“kamu harus percaya diri Nak, jangan hiraukan cerita teman-temanmu, ayah yakin Rizki bisa menjalaninya dan Rizki juga bisa lebih bak dari mereka”.
“Iya Ayah, Rizki akan berusaha menjadi yang terbaik”.  sambil sedikit tersenyum.
“Nah… itu baru pahlawan Ayah ” .
***
            Tepat pukul 17.30 motor Ayah memasuki Gang Ababil. Terlihat beberapa motor memenuhi halaman nDalem Gus Zaki selaku kepala Madrasah Diniyah PP.Alam’ruf. Rizki langsung menuju kamar yang dia pilih. Tidak lama kemudian Rizki kembali keluar untuk menemui Ayahnya, karena Rizki akan diajak sowan ke nDalem Abah Yai terlebih dahulu. Sudah menjadi kewajiban orang tua Untuk melakukan sowan walaupun hanya  memasrahkan putra-putrinya pada pengasuh.
            Setelah kembali dari nDalem Abah Yai, rizki bersalaman padaAyahnya kemudian Rizki menuju kamarnya. Ayah Rizki langsung memutar motornya kemudian langsung menuju perjalanan pulang karena takut kemalaman. Kepulangan Ayah Rizki memebuat Rizki meneteskan air mata. Rizki belum masih ingin ditemani Ayah, tapi itu mustahil terjadi.
***
            Dengan hati yang takkaruan lagi. Rizki menuju kamarnya, Dia sengaja tidak melewati pintu depan, namun diamelewati loromg sepatu untuk menuju kamarnya. Kebetulan kamarnya berdekatan dengan kamar mandi dan bisa dijangkau tanpa melewti pintu utama.
“Lho dek, kenapa lewat situ nanti kotor lho ya???”
“emm gag papa mbak, Rizki lagi gag sholat” jawab rizki sambil mengelap kedua matanya.
“Adek yang kemarin daftar sama embak ya?” menyalami tangan rizki.
“Iya mbak, sampean mbak Maria kan? Mencoba menerka.”
“iya Dek. Aku mbak Maria, masuk dek mbak juga lagi gag sholat, baru datanga apa dek?”/
“enggeh mbak,”.
            Rizki memasuki kamar yang sudah tak terlihat kamar. Kardus-kardus berserakan. Jajanan juga memenuhi kamar. Terlihat tumpukan baju yang mau disetrika juga memenuhi meja tempan menyetrika. Rizki bingung mau ngapain. Dia hanya duduk termenung dibawah cermin. Mbak Maria menemui Rizki dan menyarankan agar membereskan barang bawaanya dan menatanya di lemari mumpung masih jamaah. Tanpa pikir panjamg, rizki melakukan saran mbak Maria, mbak maria juga membantu Rizki. Sehingga penataan barang-barang bisa selesai sebelum tahlilan dimulai.
“setelah jamaah maghrib acaranya ngapain mbak?” tanya Rizki.
“setelah jamaah dilanjutkan tahlil dan yasin dek, kemudian dzibaan di lantai tiga” jelas mbak Maria.
“ harus ikut semua ya mbak?”.
“Iya dek, semua santri yang sudah di pondok hari ini wajib melaksanakan semua kegiatan yang ada disini kecuali ada udhur syar’I dengan alasan yang jelas”.
***
            Setelah acara di mushola selesai, semua santri musafahah satu sama lain. Kemudian mereka semua menuju kamar masing-masing sibuk mencari seragam untuk dipakai saat dzibaan. Rizki sudah memakainya karena dari awal sudah diingatkan oleh mbak Maria agar memakai seragam.
            Antara pesantren yang satu dengan yang lainnya tentunya mempunyai ciri khas masing-masing dan segudang kegiatan yang padat. Rizki masih saja belum bisa ceria seperti teman-temannya. Suara Bunda masih terngiang-ngiang , keinginan untuk pulang belum bisa dihilangkan. Mbak Maria tak henti-henti menghibur Rizki agar tak ingin pulang. Memang menjadi santri baru pasti merasakan hal itu. Merupakan cobaan dari Allah.
            Setelah tiga minggu berproses di pesantren, Rizki mulai betah dan  mulai enjoy dalam mengikuti kegiatan. Disamping Rizki bisa menerima keadaan, semangat dari Vella yang sudah bertahun –tahun mengemban jabatan sebagai santri menjadikan Rizki betah dan selalu bersemangat dalam melakukan kegiatannya sehari-hari.
***
Tiga bulan kemudian…
Mbak Maria pamit pada Rizki karena seminggu lagi mbak Maria harus meninggalkan pesantren. Mbak Maria mengamanatkan Rizki pada Vella. Karena RIzki masih butuh bimbingan dari seorang santri yang lebih bepengalaman.  Mbak Maria mendapat mandate dari Abah agar mbak Maria ikut membantu neng Nihlah yang baru saja melahirkan putra keduanya. Meski berat, mbak Maria harus melaksanakan mandat tersebut, diniati ngalab berkah dari Abah Yai.
            Rizki sangat keberatan jika ditinggal mbak Maria. Namun setelah mendapatkan penjelasan dari Vella. Rizki bisa menerima kepergian mbak Maria. Semenjak mbak Maria membantu di nDalem neng Nihla. Rizki jadi sering membantu Vella di nDalem Abah Yai yang lebih dekat dengan pesantren.
            Sudah hampir setengah tahun Rizki berproses di pesantren. Selama itu pulaRizki tak pernah bertemu dengan orang tuanya. Hanya suara Bunda atau Ayah yang bisa didengar jika Bunda dan Ayah ingin mengetahui kabar Rizki. Rizki sudah mulai benar-benar betah di pesanren, tak ada keinginan untuk pulang sama sekali. Bahkan Rizki berangan-angan agar bisa tetap selamanya berada di lingkungan pesantren.
***
            Satu bulan lagi, di pesantren akan diselenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Walaupun Rizki termasuk santri baru, namun Dia tergolong santri yang aktif. Rizki masuk dalam kepanitiaan. Awalnya Rizki menolak tawaran itu karena Rizki merasa masih baru dan belum paham betul tentang kpanitiaan.
“kamu harus percaya Diri Riz, mbak-mbak sudah percaya sama kamu dan mereka memilih kamu tentunya mereka punya alasan yang jelas”
“tapi aku masih baru disini Riz, aku takut diantara mbak-mbak yanglain ada yang bilang aku sok-sok an atau gymana gytu,,”
“di pesantren ini memang ada kebiasaan sepert itu, namun ini acara besar Riz, jadi panitianya tidak sembarang paniti, tapi dicari panitia yang mau bertanggung jawab dalam mengemban amanat.” Jelas Vella.
“Iya deh Vell, aku mau tapi dengan satu syarat, kamu harus membantuku jika aku ada kesulitan”.
“Iya..iya..iya..”
***
            Setelah sorogan selesai, Rizki dipanggil Abah Yai, Rizki takut kalau Abah mengetahui bahwa pada awalnya Rizki menolak jadi panitia. Rizki takut dilaporkan pada orang tuanya. Rizki hanya diam sambil sedikit mendengarkan Abah bicara ditelfon. Selesai berbicara ditelfon Abah Yai langsung menemui Rizki.
            Rizki mulai tersenyum, setelah Abah menjelaskan tujuannya kenapa mendatangkan Rizki ke nDalem. Setelah mendengar penjelasan dari Abah. Rizki mengangguk tanda mengerti dan Abah mempersilahkan kembali kepesantren untuk berproses kembali.
            Setelah jamaah isya”. Rizki menceritakan semua yang dialaminya dalam satu hari ini kepada Vella. Karena hari ini Vella ada tugas dari Bu Nyai agar menemani neng intan di nDalem, beribu-ribu syukur terungkap dari bibir mereka berdua.
“ Mungkin ini semua adalah balasan dari Alla atas usaha dan do’a kita Riz”. Kata Vella
“iyya Alhamdulillah ya Vell”…
            Sehari lagi peringatan mauled Nabi akan diselenggarakan.Rizki dan kawan-kawan santri telahmenyiapkan semuanya. Ayah dan Bunda Rizki ikut menghadiri acara tersebut, keluarga Rizki datang dua jam sebelum acara dimulai.
            Mbak maria juga menghadiri acara itu, rizki sangat Bahagia karena dalam waktu tujuh bulan sudah bisa membuat orang-orang bangga pada Rizki. Rasa syukur terucap di bibir Rizki. Semua yang dilakukan manusi pastilah mengandung hikmah. “Awali niat, lakukakanlah niat itukemudian renungka kembali niat itu maka akan berbuah keikhlasan”. Itulah motto hidup Rizki.

CERPEN



Ngalap Barokah di Penjara suci
Di penghujung  senja, rintik hujan membasahi genteng yang catnya mulai mengelupas. Setelah Gus Zakky menutup paengajian dengan lantunan do’a yang sudah menjadi kebiasaan.  Terlihat seorang santri langsung lari ke belakang sebelum do’a selesai. Sebut saja namanya Ihda, biasanya santri-santri memanggil mbak Ihda, mbak Ihda mengambil jemuran di lantai dua, mbak Ihda lari tergesa-gesa karena takut jemurannya basah.
            Mbak Ihda mempunyai kebiasaan yang berbeda dengan santri-santri yang lain, setiap pagi mbak Ihda harus bangun pagi-pagi kemudian menuju dapur, dan menyiapkan segala persiapan. Mulai dari bersih-bersih, menyiapkan apa yang mau dimasak  sampai memasaknya. Mbak Ihda mengerjakannya dengan hati yang begitu ihlas tanpa mengeluh sedikitpun, walaupun harus melakukan itu semua setiap hari, Mbak Ihda tidak pernah meninggalkan yang namanya tahajjud . mbak ihda mempunyai satu keinginan yang secara logika tidak bisa dicapai namun Mbak Ihda selalu Berdoa kepada Allah..
            Sudah dua tahun  mbak Ihda mengabdi di ndalem, semua santri mengenalnya. Mbak Ihda terkenal dengan sebutan “sandal”, wajar saja santri-santri menyebut “sandal” karena hampir seharian penuh mbak Ihda menghabiskan waktunya di ndalem Abah, paling-paling masuk kamar kalau mau mandi, mau tidur dan mau berangkat ke sekolah. karena sangat ta’dzim Mbak Ihda rela tidak pulang dikala teman-temanya pada pulang untuk liburan di rumah.
            “Mbak Ihda…..Mbak Ihda….Mbak Ihda…. Dipanggil Abah”. Suara Neng Icha yang serak-serak merdu menghentikan langkah Mbak Na’im sahabat Mbak Ihda yang akan menuju mushollah, Neng Icha mencari Mbak Ihda namun Mbak Ihda tidak ada di kamar karena hari ini Mbak Ihda ada jadwal les sore di sekolahnya.
Neng icha yang masih lugu meninggalkan mbak Na’im dan kembali ke ndalem tanpa membawa Mbak Ihda. Mbak na’im mengambil air wudhu karena jamaah sudah menunggu.jam dinding menunjukkan pukul 15.30 WIB dan jama’ah akan segera dimulai.
“teeeeeeeet……teeeeeet……Teeeeetzz”. Para santri berlarian menuju kolam wudhu, karena belum ada kesadaran untuk segera ke mushollah sebelum bel berbunyi, santri-santri banyak yang berebutan mengambil air wudhu antri yang begitu panjanpun terjadi, itulah kebiasaan yang sering dilakukan santri-santri saat mengambil air wudhu.
Sebelum jamaah dimulai, Mbak Na’im kembali ke kamar untuk mengecek adek-adeknya, tepat di depan tangga Mbak Na’in bertemu dengan mbak Ihda. Setelah menyampaikan pesan Neng Icha, Mbak Na’im menuju tempat sholatnya. Mbak Ihda buru-buru ke kamar meletakkan tasnya kemudian segera menuju ke ndalem Abah Yai.
Sampai di depan ndalem Abah, Mbak Na’im langsung mengucapkan salam, Gus Zakky yang sudah menunggu langsung menjawab salamnya dan memepersilahkan masuk, Gus Zakky menjelaskan pada Mbak Ihda mengapa beliau memanggilnya. Setelah menerima penjelasan Mbak Ihda langsung menundukkan kepala walau wajahnya agak berubah setelah medengarkan penjelasan Gus Zakky. Sebelum Mbak Ihda meninggalkan ndalem Abah Yai, Ibu memberi bungkusan untuk dibawa ke pondok dan dibagi pada teman-temannya.
Setelah berpamitan, Mbak Ihda mengucapakan salam dan kembali ke pondok. Mbak Ihda langsung ikut mengaji walau belum mandi. “Mandi bisa nomer sekian dan bisa dilakukan nanti setelah mengaji”  Kata Mbak Ihda. Mbak Ihda langsung ambil posisi di dekat jemuran, di samping ndalem. Disitulah tempat Mbak Ihda mengaji, tidak pernah pindah-pindah tempat, kapanpun waktu mengajinya Mbak Ihda selalu di dekat jemuran.
Materi pengajian saat ini adalah tentang barokah, “ kata barokah sudah tidak asing lagi bagi kita semua, apalagi bagi santri-santri yang sudah mondok seperti kalian semua, oleh sebab itu sebagai banyak sekali santri-santri yang sukses karena mendapatkan barokah dari Sang Kyai” begitulah yang didengar Mbak Ihda di akhir pengajian. Itu adalah kesimpulan dari pengajian sore itu. Walaupun hanya kesimpulannya saja yang di dengar, Mbak Ihda sangat senang karena bisa tetap istiqomah mengaji. Dan Mbak Ihda juga menemukan jawaban yang sedari dulu dicarinya, kini Mbak Ihda menjadi tahu kenapa Mbak-Mbak yang sudah menjadi alumni sering mengatakan “disini kita tidak hanya niat mencari ilmu saja namun juga sering diembel-embeli niat ngalap barokah.
Setelah Gus Arif meninggalkan tempat dan selesai melantunkan do’a, santri-santri berebutan mencari tempat sholat. Suara gaduhpun terdengar kembali, ada yang yang rebut meletakkan muknah, ada juga yang berlarian untuk membeli makan dan ada juga yang berlarian menuju kamar mandi.
Mbak Ihda mengambil muknah Neng Icha dan Muknahnya sendiri, Mbak Ihda langsung meletakkan kedua muknah tersebut di barisan terdepan dekat dengan jemuran, walaupun Mbak Ihda tidak ikut berebutan mencari tempat sholat, santri-santri selalu menyisakan tiga atau dua tempat di barisan paling depan. Tak satupun santri yang berani menempati tempat itu. Padahal Mbak Ihda juga tidak pernah meminta santri untuk menyisakannya dan tidak pernah melarang untuk menempatinya. Kebiasaan ini sudah terjadi turun temurun, mungkin itu adalah bentuk rasa hormat dan ta’dziem pada Ibu Pengasuh dan keluarga ndalem.
Mbak Naim mendekat pada Mbak Ihda yang duduk disamping muknahnya, Mbak Ihda dan Mbak Naim adalah dua sahabat sejoli semenjak awal masuk pesantren, namun Mbak Ihda lebih dekat dengan keluarga ndalem, karena mereka berdua mempunyai asal-usul yang berbeda. Tanpa disuruh bercerita, Mbak Ihda langsung bercerita pada Mbak Na’im mengapa Gus Zakky memangginya. Mbak Ihda meminta pendapat pada Mbak Na’im. “ Apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi semua ini, kamu tahu sendiri kan shob, bagaimana keadaanku saat ini, aku harus membantu keluargaku di rumah, tapi disisi lain aku juga masih ingin menimba ilmu disini dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, aku bingung shob”. Ungkapan Mbak Ihda kepada Mbak Na’im. Sejenak Mbak Na’I berpikir kemudian mengambil nafas panjang sebelum menaggapi ungkapan sahabatnya.
“Begini Shob, mungkin ini sudah menjadi jalanmu, Kamu masih ingat kata-kata ustadz Arif tadi kan?  Apalagi kata-kata mbak-mbak alumni yang sering mengatakan ta’dzim pada Kyai dan ngalap barokah, Allah telah menjawab Do’amu yang sudah engkau panjatkan di sepertiga malam_Nya. Sang Pencipta Langit mengabulkan doa’mu lewat Gus Zakky, dan mungkin inilah barokah dari apa yang telah engkau kerjakan setiap hari disini, Kau selalu ta’dzim pada Ibu, Abah dan keluarga ndalem yang lain, Sampaikan keinginanmu pada kedua orang tuamu dan juga jangan lupa sampaikan ini pula pada beliau, aku yakin beliau lebih mengerti keinginanmu, ingat hidup adalah pilihan, engkau harus bisa memilih yang terbaik bagimu, keluargamu dan semuanya yang telah mendukungmu”. Mbak Na’im tidak memberi keputusan namun Mbak Na’im memberikan sedikit penjelasan yang bisa membantu Mbak Ihda untu menentukan pilihan.
“Terima kasih shobat, jawabanmu benar-benar membantuku, aku akan melaksanakan saranmu setelah aku pulang, kau selalu ada disampingku disaat aku senang bahkan disaat aku sedih, aku tak akan melupakanmu”. Segores senyum dibibir Mbak Ihda mengembang kembali.
“Teeeeeeetz….Teeeeeeetz….Teeeeeetz…..” suara bel agar para santri segera mengambil air wudhu. Hiruk pikuk para santri dan jeritan suara antripun menyelimuti pesantren. Mbak Ihda dan Mba Na’in langsung menuju tempat wudhu, mereka berdua ikut antri menunggu giliran wudhu. Para santri harus wudhu satu-satu bergantian di kran yang jumlahnya sangat terbatas namun setelah melihat Mbak Ihda dan Mbak Na’im mengantri, ada beberapa orang santri mempersilahkan Mbak Na’im dan Mbak Ihda untuk wudhu duluan.
Mbak Ihda dan Mbak Na’im adalah sahabat sejoli yang dipertemukan di As Sudara P.P.P Alma’ruf  walau dari kelurga yang sangat berbeda.